Jumat, 17 Mei 2013

Gadis Bergamis


Yang tahu soal pekerjaan yang penting tentang keseriusan dalam melakukannya itu dia, tidak ada yang penting melainkan keharusan itu. dia tidak mementingkan kesengsaraan yang mungkin bisa membuatnya kesusahan, hanya suatu ego yang kecil yang bisa merasa dirinya benar-benar bersalah. banyak orang yang membutuhkan materi tapi dia tidak pernah berfikir bahwa itu satu-satunya yang perlu difikirkan.

keutamaan dalam beragama adalah kebutuhannya, dia sangat menjungjung tinggi itu, pernah sesekali dia berlari untuk dunia yang dia anggap hanya fatamorgana dan sesekali itu dia menyesal kenapa harus seserius itu, tapi dia bukanlah hawa yang mudah hilang asa karena sebuah penyesalan, lebih tepatnya dia tidak menyesal tapi dia terus memperbaiki kesalahannya yang dia pernah lakukan.

gadis bergamis memeluk utuh persembunyiannya, dia juga sangat menjungjung tinggi itu hal yang bersifat rahasia dia akan terus mencoba merahasiakannya untuk orang-orang yang memang tidak pantas untuk mengetahuinya. gadis bergamis menyenangkan untuk dipandang. tetapi memandangnya dia anggap adalah sebuah perlakuan yang tidak terlalu baik. gadis bergamis itulah dia, tidak ada yang pantas diungkapkan selain membicarakan tentang keteladannya dalam beragama, namun itu dia setiap manusia selalu mempunyai kekurangan, bagi dia kekurangan itulah yang menjadi alasan kenapa kebersamaan bisa menjadi keselarasan untuk berjalan lama.

Sabtu, 02 Februari 2013

Malam Itu


Andai,
Ketika fajar datang aku dapat terbangun dengan gembira, dimana malam itu aku merenung dengan satu purnama yang raun dan aku mendengar purnama itu berkata,

“aku sedih karena tak satupun bintang yang menemaniku dimalam ini”.

Dalam hening akupun menjawab,

“akupun sama purnama”.

Kemudian datang se’ekor kunang-kunang yang menemplok pada dandelion yang rapuh, kunang-kunang itu berbisik,

“aku sedih karena aku tak seterang purnama itu”.

dan dalam sedih aku berucap,

“akupun begitu kunang-kunang”.

Aku memang tak sehebat mereka dan aku tak seberuntung mereka, aku raun dan aku rapuh, setetes air mulai jatuh dari kelopak mataku, tapi dengan kuat aku mencoba untuk menahan dan dengan keras hatiku berteriak,

“percuma menangis, tak ada yang perduli dan takkan ada yang memperdulikan, aku hanya orang bodoh yang menangisi setiap kesedihanku”.

Lalu seketika purnama itu tertutupi awan yang hitam dan kunang-kunang itu pergi kebalik lorong yang gelap.

Rabu, 30 Januari 2013

Kehidupan Dibelakangku (Cerpen)


Kehidupan Dibelakangku

“Apa yang tak kutahu dari kehidupan dibelakangku
Apa yang kucari dari mata yang tajam mengawasi hari-hari yang berlalu
Apa yang kudengar dari tangisan angin berlalu
Apa yang aku ucapkan dari semua teriakan hati yang tertinggal”

            Saat Aku berjalan diatas kesunyian terdengar bisikan yang seakan tak bisa kulihat, dan kucoba untuk menengok kebelakang tapi hanya ada kesepian yang dikabuti ketakutan tapi seakan Aku tak peduli, Aku terus berjalan, langkah demi langkah Aku lalui tapi hanya kekosongan hati yang kudapat. Lagi-Lagi, hatiku berbisik seakan ada teriakan yang terdengar oleh bisikan merpati, merpati yang indah, merpati yang memancarkan mata yang tajam,
tapi mengapa, mengapa merpati itu datang padaku, dari mana asalnya merpati itu?”, hatiku bertanya. Lalu merpati itu datang lagi menyongsong membelakangiku bersinambung dipundaku, Akupun bertanya padanya,

”siapakah engkau? Dan siapakah namamu?”
”namaku kebebasan”, jawab merpati itu.
”dari mana asalmu? Bagaimana kau bisa sampai disini?”, Aku berkata.
Aku berasal dari masa lalumu yang tertinggal, Aku menerobos waktu demi waktu untuk kehidupan yang tidak pasti”, dia menyahut.
”mengapa kau datang padaku?”, Aku bertanya.
Aku datang karena kehidupan dibelakangmu”, dia menjawab sambil mengepakan sayapnya dan pergi tanpa sedikitpun pamit denganku.

Dia menghilang didepan mataku kebalik kabut, Aku tidak mengerti ada apa dengan dibelakangku, apa Aku pernah membawa masa laluku sampai hingga ada yang tertinggal? Sungguh Aku tak mengerti apa yang ada didalam hatiku dan apa yang ada diluar hatiku.

Akupun berhenti berjalan, Aku memasuki lembah hantu-hantu dan duduk seorang diri diatas batu yang tajam, dimana kenangan- kenangan dari generasi lalu bersembunyi, dan semangat dari zaman mendatang berbaring menunggu. Disana Aku melihat sesosok bayangan yang gelap berjalan sendirian sambil memandang wajah matahari. Tanpa segan akupun bertanya padanya,

”sipakah engkau? Mengapa kau ada disini?”
Aku adalah kehidupan yang tak pasti, Aku tidak tahu mengapa Aku ada disini”, dia menjawab.
”lalu apa yang kau lakukan ditempat ini?”, Aku berkata.
Aku mencari masa depan yang meninggalkanku dari masa lalu yang sudah tertinggal”, dia menyahut.
”apa..? masa lalu yang tertinggal? Masa depan yang meninggalkanmu? Apa maksudmu, dan apakah kau sudah menemukan apa yang kau cari?”, Aku menyentak kaget.
”sudah”, dia membalas.
”apa maksudmu? Lalu dimana dia sekarang?”, Aku bertanya dengan kebingunganku karena Aku tahu disini hanya ada Aku dan dia.
”dia sedang bercakap padaku, dan dia adalah kau”, dia menjawab.
”dia adalah Aku? apa maksudmu?”, Aku bertanya dengan penuh kebingunganku, walaupun Aku sudah sedikit mengerti tentang pembahasan ini.
”maksudku adalah maksudmu dan kebingunganku adalah kebingunganmu juga karena Aku adalah dirimu”, dia menjawab.
”ya Aku mengerti dari merpati yang membuang-buang waktu diatas kekosongan waktu, bukankah kau yang meminta pertolongan pada merpati yang indah yang memancarkan mata yang tajam dan mengirimkannya padaku? Lalu apa tujuanmu mencariku, apa ada kesalahan yang Aku lakukan dimasa laluku yang mungkin tidak bisa Aku tinggalkan?”, Aku membalas.
”tidak, justru Aku yang bertanya padamu, mengapa kau memanggilku dari ketenangan yang ada”, dia menjawab.
”jadi Aku yang memanggilmu bukan kau yang mencariku?”, Aku tersentak kaget dengan perkataanya, kenapa dia kembali bertanya padaku.
”ya, kaulah yang memanggilku, jiwaku merasa tak tenang saat jiwamu tak tenang, hatimu menjalani hatiku saat hatimu berlabuh ditengah badai yang terjang dan hatiku menjalani hatimu saat hatiku mampu melawan badai yang mengecilkan hatimu”, dia menjawab.
”ya, memang akhir-akhir ini hatiku terbelenggu oleh maya-maya yang gelap hingga membawaku kedalam kehidupan yang tidak pasti, maaf jika memang hatiku memanggilmu dari ketenangan yang ada”, Aku menjawab dengan segala pengertianku, karena Aku memang sudah mengerti tentang pembahasan ini.
”tidak, kau tidak perlu meminta maaf, karena jiwaku adalah jiwamu, jiwaku takkan tenang jika jiwamu tak jua tenang, katakanlah apa yang membuat hatimu bagai terjepit batu yang besar?”, dia berkata.
”hatiku menangis saat Aku mendengar angin-angin padang menertawakanku, hatiku membisu saat mulutku berdengung memutuskan asa, hatiku menuli saat telingaku berbicara diatas kebenaran, hatiku menjaga saat semua mengetuk hati yang bertanya, begitulah Aku yang tak bisa mengetahui siapa diriku tapi terkadang hatiku mencoba melawan semua itu tapi itu hanya tiupan kecil dari angin badai yang melawanku, lalu apa yang dapat kau lakukan dari semua masalah ini?”, Aku meneruskan..
Dia terdiam lalu menundukan kepalanya, seakan dia sedang bertanya kepada hati tentang semua permasalahan yang sulit ini, tidak lama kemudian pun  dia berkata,
Aku mungkin tahu segala sesuatu yang ada didalam hatimu dan Aku mungkin tahu jika hatimu tahu, tapi Aku tidak mungkin tahu jika kau akhirnya menyesal atas semua yang kau lakukan dimasa lalu, kita ini sama dan siapapun tidak akan mampu untuk kembali kemasa lalu, yang harus kau lakukan adalah berjuang dan belajar dari hal buruk yang pernah kau lakukan dimasa lalumu kau tidak perlu menyesalinya, percayalah bahwa kau pasti bisa, marilah kita pergi kezaman malam-malam yang hilang marilah kita pergi kedalam kehidupan yang pasti, untuk mencari makna kehidupan yang hilang, untuk mencari nyanyian malam yang pernah bersemayam dihati kita”
Aku tersenyum lepas mendengar ucapannya, lalu Aku menjawab dengan penuh kesenangan dihatiku,
”ya marilah kita pergi dari segala kehidupan yang menutupi kehidupan yang hilang dari segala kehidupan yang selama ini menggantung hati kita, tapi apakah kita mampu?”
”jangan takut jiwaku, karena tidak memiliki bintang-bintang diketinggian dan ingatlah jiwaku karena malam yang pernah mencuri hati kita akan kita dapatkan dari malam yang pernah indah dihati kita”, dia membalas sambil membalikan tubuhnya dari hadapanku, lalu berjalan pelan seakan dia ingin pergi meninggalkanku.
“hei apakah kau ingin pergi? Bukannya kau ingin membantuku?”, Aku bertanya.
“Aku tidak pergi, tapi hanya menghilang, percayalah ! Aku akan selalu ada untukmu dan membantumu saat kau sedang menghadapi keadaan yang sulit, Aku akan bicara saat kau masih terus percaya bahwa hatimu ada”, ucap dia sambil berjalan menjauh dari hadapanku, seakan terus menghilang tertelan kabut.

            Tidak lama kemudian Aku mendengar lantunan suara indah, suara yang persis sama saat Aku bercakap dengan seekor merpati. Suara itu berbunyi,

“Andai ada itupun tak ada,
andai mampu Akupun tak mampu,
takkan ada apapun mungkin ada,
takkan mungkin apakah jiwa yang baku.

Siapa yg mengetahui tentang rahasia hati,
menjelma menjadi jiwa yang sejati dan mungkin berseteru oleh hati yang hampa.

Aku hanya ingin ada didunia ini untuk jiwa yang selama ini kucari,
untuk bahasa yang selama ini ku tak mengerti,
untuk suara yang selama ini asing kudengar.

Aku hanya ingin menjadi sesuatu yang berharga bagi dunia ini dan menjadi suatu hal yang indah bagi semua orang dan ingin terus berjuang untuk diri sendiri juga orang lain”.

            Lantunan yang indah, Akupun sudah mengerti tentang semua ini, Aku terus tersenyum lepas dengan kesenangan dihatiku.

Sabtu, 26 Januari 2013

Hingga


Saat semuanya menyimpan tentang perasaan yang merubah, merubah setiap keadaan yang seharusnya tidak berubah, angin yang berlalu itupun muncul kembali seperti kelinci kecil yang melompat-melompat dipinggir sungai dalam yang deras, begitu indah tapi mengerikan, apakah semestinya harus seperti itu?
Hingga tak ada ruang untuk setiap keadaan yang membingungkan, yang ada hanya jawaban untuk iya dan tidak, ruang untuk jawaban keduanyalah yang selalu tidak mendapatkan tempat.

Untuk perasaan yang tertunda, bisakah aku menyimpannya untuk sementara, saat aku mulai merasa lelah aku berjanji akan tetap menyimpannya, untuk hal yang aku saksikan bersama itu sebagai bukti untuk perjalanan yang akan menghilang, jika memang harus terlepas aku akan mencoba untuk mengikhlaskannya.
Hingga tak akan ada meragukan dalam perjalanan yang meyakinkan untuk setiap nafas yang membawa kesetaraan, bisakah itu bertahan.


Dan kesanggupan
Menusuk seperti kesurupan
Menyambut setangguk ketakutan
Meraut memberi kegelapan
Yang memenggal kesenduan untuk kesetaraan yang terasingkan
Aku bicara saat aku perlu tapi orang-orang menyinggungnya seakaan itu keanehan,
Apa itu kesalahan?
Aku mendengarkan saat semuanya berteriak tapi mereka meruainya seakaan itu kebodohan,
Apa itu kesalahan?
Aku melihat saat semuanya merasa gelap tapi orang-orang menertawakannya seakan itu sebuah candaan,
Apa itu kesalahan?
Aku bertindak saat semuanya terdiam tapi mereka menyangkanya seakaan itu sebuah keburukan,
Apa itu kesalahan?