Andai,
Ketika fajar datang aku dapat terbangun dengan gembira, dimana malam itu aku merenung dengan satu purnama yang raun dan aku mendengar purnama itu berkata,
“aku sedih karena tak satupun bintang yang menemaniku dimalam ini”.
Dalam hening akupun menjawab,
“akupun sama purnama”.
Kemudian datang se’ekor kunang-kunang yang menemplok pada dandelion yang rapuh, kunang-kunang itu berbisik,
“aku sedih karena aku tak seterang purnama itu”.
dan dalam sedih aku berucap,
“akupun begitu kunang-kunang”.
Aku memang tak sehebat mereka dan aku tak seberuntung mereka, aku raun dan aku rapuh, setetes air mulai jatuh dari kelopak mataku, tapi dengan kuat aku mencoba untuk menahan dan dengan keras hatiku berteriak,
“percuma menangis, tak ada yang perduli dan takkan ada yang memperdulikan, aku hanya orang bodoh yang menangisi setiap kesedihanku”.
Lalu seketika purnama itu tertutupi awan yang hitam dan kunang-kunang itu pergi kebalik lorong yang gelap.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar