Kehidupan Dibelakangku
“Apa yang tak
kutahu dari kehidupan dibelakangku
Apa yang kucari
dari mata yang tajam mengawasi hari-hari yang berlalu
Apa yang
kudengar dari tangisan angin berlalu
Apa yang aku
ucapkan dari semua teriakan hati yang tertinggal”
Saat Aku
berjalan diatas kesunyian terdengar bisikan yang seakan tak bisa kulihat, dan
kucoba untuk menengok kebelakang tapi hanya ada kesepian yang dikabuti
ketakutan tapi seakan Aku tak peduli, Aku terus berjalan, langkah demi langkah Aku lalui tapi hanya kekosongan hati yang kudapat. Lagi-Lagi,
hatiku berbisik seakan ada teriakan yang terdengar oleh bisikan merpati,
merpati yang indah, merpati yang memancarkan mata yang tajam,
“tapi mengapa, mengapa
merpati itu datang padaku, dari mana asalnya merpati itu?”, hatiku
bertanya. Lalu merpati itu datang lagi menyongsong membelakangiku
bersinambung dipundaku, Akupun bertanya
padanya,
”siapakah
engkau? Dan siapakah namamu?”
”namaku
kebebasan”, jawab merpati itu.
”dari
mana asalmu? Bagaimana kau bisa sampai disini?”, Aku
berkata.
”Aku berasal dari masa lalumu yang
tertinggal, Aku menerobos waktu demi waktu untuk kehidupan yang
tidak pasti”, dia menyahut.
”mengapa
kau datang padaku?”, Aku bertanya.
”Aku datang karena kehidupan dibelakangmu”, dia menjawab sambil mengepakan sayapnya dan pergi tanpa sedikitpun pamit denganku.
Dia
menghilang didepan mataku kebalik kabut, Aku
tidak mengerti ada apa dengan dibelakangku, apa Aku
pernah membawa masa laluku sampai hingga ada yang tertinggal? Sungguh Aku tak mengerti
apa yang ada didalam hatiku dan apa yang ada diluar hatiku.
Akupun berhenti berjalan, Aku memasuki lembah hantu-hantu dan duduk seorang
diri diatas batu yang tajam, dimana kenangan- kenangan dari generasi lalu
bersembunyi, dan semangat dari zaman mendatang berbaring menunggu. Disana Aku melihat sesosok bayangan yang gelap berjalan
sendirian sambil memandang wajah matahari. Tanpa segan akupun
bertanya padanya,
”sipakah
engkau? Mengapa kau ada disini?”
”Aku adalah kehidupan yang tak pasti, Aku tidak tahu mengapa Aku
ada disini”, dia menjawab.
”lalu
apa yang kau lakukan ditempat ini?”, Aku berkata.
”Aku mencari masa depan yang meninggalkanku dari masa
lalu yang sudah tertinggal”, dia menyahut.
”apa..?
masa lalu yang tertinggal? Masa depan yang meninggalkanmu? Apa maksudmu, dan
apakah kau sudah menemukan apa yang kau cari?”, Aku
menyentak kaget.
”sudah”, dia membalas.
”apa
maksudmu? Lalu dimana dia sekarang?”, Aku bertanya
dengan kebingunganku karena Aku tahu disini
hanya ada Aku dan dia.
”dia
sedang bercakap padaku, dan dia adalah kau”, dia
menjawab.
”dia
adalah Aku? apa maksudmu?”, Aku bertanya dengan penuh kebingunganku, walaupun Aku sudah sedikit
mengerti tentang pembahasan ini.
”maksudku
adalah maksudmu dan kebingunganku adalah kebingunganmu
juga karena Aku adalah dirimu”, dia
menjawab.
”ya
Aku mengerti dari merpati yang membuang-buang waktu
diatas kekosongan waktu, bukankah kau yang meminta pertolongan pada merpati
yang indah yang memancarkan mata yang tajam dan mengirimkannya padaku? Lalu apa
tujuanmu mencariku, apa ada kesalahan yang Aku
lakukan dimasa laluku yang mungkin tidak bisa Aku
tinggalkan?”, Aku membalas.
”tidak,
justru Aku yang bertanya padamu, mengapa kau memanggilku
dari ketenangan yang ada”, dia menjawab.
”jadi
Aku yang memanggilmu bukan kau yang mencariku?”, Aku tersentak kaget
dengan perkataanya, kenapa dia kembali bertanya padaku.
”ya,
kaulah yang memanggilku, jiwaku merasa tak tenang saat jiwamu tak tenang,
hatimu menjalani hatiku saat hatimu berlabuh ditengah badai yang terjang dan
hatiku menjalani hatimu saat hatiku mampu melawan badai yang mengecilkan
hatimu”, dia menjawab.
”ya,
memang akhir-akhir ini hatiku terbelenggu oleh maya-maya yang gelap hingga
membawaku kedalam kehidupan yang tidak pasti, maaf jika memang hatiku memanggilmu
dari ketenangan yang ada”, Aku menjawab dengan segala pengertianku, karena Aku memang sudah
mengerti tentang pembahasan ini.
”tidak,
kau tidak perlu meminta maaf, karena jiwaku adalah jiwamu, jiwaku takkan tenang
jika jiwamu tak jua tenang, katakanlah apa yang membuat hatimu bagai terjepit
batu yang besar?”, dia berkata.
”hatiku
menangis saat Aku mendengar angin-angin padang menertawakanku, hatiku
membisu saat mulutku berdengung memutuskan asa, hatiku menuli saat telingaku berbicara diatas kebenaran, hatiku
menjaga saat semua mengetuk hati yang bertanya, begitulah Aku yang tak bisa mengetahui siapa diriku tapi
terkadang hatiku mencoba melawan semua itu tapi itu hanya tiupan kecil dari
angin badai yang melawanku, lalu apa yang dapat kau lakukan dari semua masalah
ini?”, Aku meneruskan..
Dia terdiam lalu menundukan kepalanya, seakan dia sedang bertanya kepada hati
tentang semua permasalahan yang sulit ini, tidak lama kemudian pun dia berkata,
”Aku mungkin tahu segala sesuatu yang ada didalam
hatimu dan Aku mungkin tahu jika hatimu tahu, tapi Aku tidak mungkin tahu jika kau akhirnya menyesal
atas semua yang kau lakukan dimasa lalu, kita ini sama dan siapapun tidak akan
mampu untuk kembali kemasa lalu, yang harus kau lakukan adalah berjuang dan
belajar dari hal buruk yang pernah kau lakukan dimasa lalumu kau tidak perlu
menyesalinya, percayalah bahwa kau pasti bisa, marilah kita pergi kezaman
malam-malam yang hilang marilah kita pergi kedalam kehidupan yang pasti, untuk
mencari makna kehidupan yang hilang, untuk mencari
nyanyian malam yang pernah bersemayam dihati kita”
Aku tersenyum lepas mendengar ucapannya, lalu Aku menjawab dengan
penuh kesenangan dihatiku,
”ya
marilah kita pergi dari segala kehidupan yang menutupi kehidupan yang hilang
dari segala kehidupan yang selama ini menggantung hati kita, tapi apakah kita
mampu?”
”jangan
takut jiwaku, karena tidak memiliki bintang-bintang
diketinggian dan ingatlah jiwaku karena malam yang pernah mencuri hati kita
akan kita dapatkan dari malam yang pernah indah dihati kita”, dia membalas sambil
membalikan tubuhnya dari hadapanku, lalu berjalan pelan seakan dia ingin pergi
meninggalkanku.
“hei apakah kau
ingin pergi? Bukannya kau ingin membantuku?”, Aku bertanya.
“Aku tidak
pergi, tapi hanya menghilang, percayalah ! Aku akan selalu ada untukmu dan
membantumu saat kau sedang menghadapi keadaan yang sulit, Aku akan bicara saat
kau masih terus percaya bahwa hatimu ada”, ucap dia sambil berjalan menjauh
dari hadapanku, seakan terus menghilang tertelan kabut.
Tidak lama kemudian Aku mendengar
lantunan suara indah, suara yang persis sama saat Aku bercakap dengan seekor
merpati. Suara itu berbunyi,
“Andai ada
itupun tak ada,
andai mampu Akupun
tak mampu,
takkan ada
apapun mungkin ada,
takkan mungkin
apakah jiwa yang baku.
Siapa yg
mengetahui tentang rahasia hati,
menjelma menjadi
jiwa yang sejati dan mungkin berseteru oleh hati yang hampa.
Aku hanya ingin
ada didunia ini untuk jiwa yang selama ini kucari,
untuk bahasa yang
selama ini ku tak mengerti,
untuk suara yang
selama ini asing kudengar.
Aku hanya ingin
menjadi sesuatu yang berharga bagi dunia ini dan menjadi suatu hal yang indah
bagi semua orang dan ingin terus berjuang untuk diri sendiri juga orang lain”.
Lantunan yang indah, Akupun sudah
mengerti tentang semua ini, Aku terus tersenyum lepas dengan kesenangan dihatiku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar